SETIAP 1 Mei, di banyak kota dunia, jalan-jalan berubah wajah. Spanduk dibentangkan. Pengeras suara dinyalakan. Massa bergerak perlahan menuju pusat kota. Ada yang datang dengan seragam pabrik, jaket ojek daring, helm proyek, rompi pelabuhan, atau kemeja kantor yang baru dilepas dari gantungan.

Di antara mereka, ada satu kesamaan: semuanya bekerja.

Tanggal itu dikenal sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. Bagi sebagian orang, ia hanya hari libur nasional. Bagi yang lain, ia adalah hari protes. Namun bagi jutaan pekerja, 1 Mei adalah penanda bahwa kehidupan yang layak tak pernah datang cuma-cuma.

Di balik tanggal merah itu, tersimpan sejarah tentang peluh, benturan, politik, dan manusia-manusia biasa yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Ketika Waktu Menjadi Milik Pabrik

Bayangkan dunia pada akhir abad ke-19. Cerobong asap memenuhi langit kota industri. Mesin uap menggerakkan pabrik tekstil, baja, dan rel kereta. Ekonomi tumbuh cepat, tetapi kemakmuran tak dibagi rata.

Buruh bekerja 12 hingga 16 jam sehari. Anak-anak ikut masuk pabrik. Cedera kerja dianggap risiko biasa. Upah cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk hidup layak.

Di tengah situasi itu, lahir tuntutan yang terdengar sederhana: delapan jam kerja sehari.

Delapan jam untuk bekerja. Delapan jam untuk beristirahat. Delapan jam untuk hidup sebagai manusia.

Kalimat itu menyebar dari mulut ke mulut, dari ruang rapat serikat kecil hingga jalan-jalan kota industri.

Chicago, Kota yang Menyalakan Dunia

Pada 1 Mei 1886, ratusan ribu pekerja di Amerika Serikat mogok massal. Chicago menjadi pusat gelombang itu. Kota industri tersebut dipenuhi demonstrasi, pidato, dan barisan pekerja yang menuntut perubahan.

Baca Juga:  Tanggapi Aksi Persatuan Sopir Dump Truk Konawe, DPRD Sultra Gelar RDP

Tiga hari kemudian, bentrokan antara polisi dan buruh menewaskan beberapa pekerja di depan pabrik McCormick. Kemarahan meluas. Pada 4 Mei, rapat umum digelar di Haymarket Square.

Hujan turun malam itu. Massa mulai bubar ketika polisi datang membubarkan kerumunan. Lalu sebuah bom meledak.

Tak ada yang benar-benar tahu siapa pelakunya. Tetapi setelah ledakan, tembakan dan kekacauan pecah. Polisi dan warga tewas. Puluhan lainnya terluka.

Negara bergerak cepat. Aktivis buruh ditangkap. Beberapa dijatuhi hukuman mati meski bukti keterlibatan mereka diperdebatkan hingga hari ini.

Haymarket bukan akhir gerakan buruh. Ia justru menjadi awal legenda.

Dari Tragedi Menjadi Simbol Dunia

Pada 1889, Kongres Buruh Internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai hari perjuangan buruh sedunia untuk mengenang Chicago dan meneruskan tuntutan delapan jam kerja.

Sejak saat itu, tanggal 1 Mei menyeberangi batas negara.

Di Eropa, pekerja turun ke jalan membawa mawar merah dan selebaran politik. Di Amerika Latin, May Day menjadi panggung solidaritas kelas pekerja. Di Asia dan Afrika, ia berkelindan dengan perjuangan anti-kolonial.

May Day berubah menjadi bahasa universal tentang keadilan.

Setiap zaman menambahkan tuntutannya sendiri: hak cuti, upah minimum, keselamatan kerja, pensiun, perlindungan maternitas, hingga hak berserikat.

Banyak hak yang hari ini terasa normal, dahulu dibayar mahal oleh generasi sebelum kita.

Indonesia: Buruh, Kolonialisme, dan Kemerdekaan

Di Hindia Belanda, kisah itu menemukan versinya sendiri.

Awal abad ke-20, pekerja kereta api, pelabuhan, perkebunan, dan percetakan mulai membangun organisasi. Mereka bukan hanya menuntut upah, tetapi juga menolak perlakuan diskriminatif yang membedakan pekerja Eropa dan pribumi.

Baca Juga:  Senja Mendung di Atas Laut: Perjalanan Bajoe–Kolaka Bersama KMP Mandala Nusantara

Gerakan buruh lalu bertemu dengan nasionalisme yang sedang tumbuh. Tuntutan ekonomi perlahan berubah menjadi kesadaran politik: bahwa ketidakadilan di tempat kerja tak bisa dipisahkan dari penjajahan.

Setelah kemerdekaan, serikat buruh berkembang menjadi kekuatan penting. Pada era Presiden Soekarno, 1 Mei dirayakan terbuka. Buruh menjadi bagian dari narasi besar pembangunan bangsa.

Namun sejarah kembali berbelok selepas 1965.

Pada masa Orde Baru, ruang gerak buruh dikontrol ketat. Negara menempatkan stabilitas industri di atas kebebasan berserikat. Aksi-aksi pekerja dibatasi, sementara May Day lama kehilangan panggung terbukanya.

Reformasi dan Jalan yang Dibuka Lagi

Kejatuhan Orde Baru pada 1998 membuka pintu baru. Serikat pekerja independen tumbuh. Buruh kembali punya ruang menyusun organisasi, berunding, dan bersuara.

Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bandung—setiap 1 Mei, jalanan kota-kota itu kembali dipenuhi massa.

Mereka datang membawa isu baru: upah minimum, penolakan PHK massal, jaminan kesehatan, outsourcing, perlindungan pekerja migran, hingga revisi undang-undang ketenagakerjaan.

Pada 2014, negara menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Sebuah pengakuan formal atas hari yang lama hidup di jalanan.

Buruh di Era Aplikasi

Tetapi dunia kerja terus berubah.

Kini buruh tak selalu berada di pabrik. Mereka bisa bekerja dari layar ponsel, mengantar makanan, menulis kode program, menjaga gudang logistik, menjadi kreator konten, atau mengambil proyek lepas tanpa kontrak jangka panjang.

Hubungan kerja menjadi cair, tetapi ketidakpastian sering ikut membesar.

Siapa yang menanggung risiko ketika pesanan sepi? Siapa yang memberi jaminan saat sakit? Bagaimana upah dihitung jika algoritma menentukan order?

Baca Juga:  Hari Buruh: Menghargai Peluh, Merawat Harapan

Pertanyaan-pertanyaan baru itu membuat May Day tetap relevan. Hanya bentuk seragamnya yang berubah.

Mereka yang Menjaga Kota Tetap Menyala

Di balik riuh peringatan Hari Buruh, sesungguhnya ada wajah-wajah yang jarang masuk berita.

Petugas kebersihan yang bekerja saat subuh. Sopir truk yang menempuh lintas provinsi semalaman. Perawat yang berjaga ketika orang lain libur. Buruh bangunan yang berdiri di bawah matahari. Operator mesin yang menjaga produksi tetap berjalan. Kurir yang mengetuk pintu rumah membawa paket.

Mereka membuat kota tetap hidup, sering tanpa tepuk tangan.

May Day mengingatkan bahwa ekonomi bukan hanya soal grafik pertumbuhan, investasi, atau angka ekspor. Ekonomi berdiri di atas tenaga manusia.

Mengapa 1 Mei Akan Selalu Ada

Setiap generasi punya bentuk perjuangannya sendiri. Dulu tentang jam kerja delapan jam. Kini tentang kerja layak di tengah otomatisasi, kecerdasan buatan, dan biaya hidup yang terus naik.

Namun inti tuntutannya tak berubah: manusia tidak boleh kalah oleh sistem yang ia bangun sendiri.

Karena itu, 1 Mei akan selalu kembali.

Selama masih ada orang yang bekerja terlalu lama tetapi tetap miskin, selama masih ada pekerja tanpa perlindungan, selama suara mereka lebih pelan daripada suara modal, May Day akan terus menemukan alasan untuk diperingati.

Dan setiap kali massa bergerak di jalanan pada tanggal itu, dunia diingatkan pada satu hal sederhana: bahwa martabat manusia juga harus hadir di tempat kerja. (**)