BAHASA tidak pernah benar-benar mati. Ada kata-kata yang lama menghilang dari percakapan sehari-hari, tetapi tiba-tiba kembali hidup ketika zaman menemukan relevansinya. Salah satunya adalah “londo ireng”.

Istilah yang nyaris hanya tersisa dalam cerita orang-orang tua itu mendadak kembali menjadi bahan diskusi nasional setelah Presiden Prabowo Subianto mengucapkannya dalam sebuah pidato baru-baru ini. Seketika, publik bertanya: apa sebenarnya makna “londo ireng”?

Dalam sejarahnya, istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa. Londo berarti Belanda, sedangkan ireng berarti hitam. Pada masa kolonial, masyarakat Jawa menyebut serdadu Afrika yang direkrut pemerintah Hindia Belanda sebagai londo ireng. Mereka berasal dari Afrika Barat, terutama wilayah yang kini menjadi Ghana, dan dipakai Belanda untuk memperkuat pasukan kolonial di Nusantara.

Ironisnya, mereka bukan penjajah yang datang membawa kapal-kapal dagang dari Eropa. Mereka juga bukan pengambil kebijakan kolonial. Namun, karena mengenakan seragam Belanda dan menjalankan kepentingan pemerintah kolonial, masyarakat memandang mereka sebagai bagian dari kekuatan penjajah.

Baca Juga:  Menyoal Ketidakadilan Perlakuan Terhadap Dosen PPPK

Di sinilah sejarah memberi pelajaran penting. Loyalitas seseorang tidak selalu diukur dari asal-usulnya, tetapi dari siapa kepentingannya diperjuangkan.

Seiring waktu, istilah “londo ireng” mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi dipahami sebagai identitas fisik atau warna kulit. Dalam percakapan politik dan sosial, istilah itu berubah menjadi metafora bagi siapa saja yang dinilai lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan bangsanya sendiri.

Ketika Presiden Prabowo menghidupkan kembali istilah tersebut, sesungguhnya yang mengemuka bukan sekadar dua kata, melainkan sebuah peringatan tentang cara berpikir. Bahwa ancaman terhadap sebuah bangsa tidak selalu datang dari luar negeri. Kadang justru hadir dari dalam, melalui mentalitas yang rela mengorbankan kepentingan rakyat demi keuntungan kelompok, kekuasaan, atau kepentingan pihak lain.

Baca Juga:  Ilusi Keamanan Gizi di Tengah Arus Kapitalisme

Tentu, setiap orang bebas menafsirkan pidato itu. Dalam negara demokrasi, kritik dan perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Namun, di luar hiruk-pikuk politik, istilah “londo ireng” mengajak kita merenungkan satu pertanyaan sederhana: kepada siapa sebenarnya kesetiaan kita diberikan?

Di era globalisasi, bekerja sama dengan negara lain adalah keniscayaan. Investasi asing, perdagangan internasional, hingga kerja sama teknologi merupakan bagian dari pembangunan. Yang menjadi persoalan bukanlah keterbukaan terhadap dunia, melainkan ketika kepentingan nasional dikorbankan tanpa pertimbangan yang adil.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya bisa dijajah dengan senjata. Ketergantungan ekonomi, dominasi informasi, bahkan lunturnya rasa percaya diri terhadap kemampuan sendiri dapat menjadi bentuk penjajahan yang lebih halus.

Baca Juga:  Hari Jadi Bone 690 Tahun. Goodbye Corona

Karena itu, istilah “londo ireng” seharusnya tidak dipahami sebagai label untuk menyerang individu atau kelompok tertentu. Ia lebih tepat dimaknai sebagai pengingat agar bangsa ini tidak kehilangan arah. Agar setiap kebijakan, keputusan, dan sikap selalu berpijak pada kepentingan rakyat dan negara, bukan semata-mata pada kepentingan pihak lain.

Pada akhirnya, sejarah tidak pernah selesai. Ia hanya berganti wajah. Dan kadang, sebuah istilah yang telah usang muncul kembali bukan untuk menghidupkan masa lalu, melainkan untuk mengingatkan kita agar tidak mengulanginya.

Mungkin itulah sebabnya dua kata yang nyaris terlupakan itu kembali menggema saat ini. Bukan karena sejarah ingin kembali, tetapi karena sejarah ingin didengar.