KONAWE, TEROBOS.ID – Di balik lekuk perbukitan Sulawesi Tenggara, tersembunyi sebuah tempat yang perlahan menjelma menjadi simbol keindahan alam Konawe: Puncak Ahuawali.
Berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (MDPL), bukit ini terletak di Desa Ahuawali, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe.
Dari sinilah, mata diajak memandang lanskap luas yang kerap diselimuti kabut, menghadirkan sensasi berada di sebuah negeri yang mengapung di atas awan.
Perjalanan menuju Puncak Ahuawali menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan. Jalanan yang relatif mudah dilalui membuat destinasi ini dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Tak perlu mendaki berjam-jam atau menembus jalur ekstrem—cukup menyiapkan stamina ringan dan rasa ingin tahu, pengunjung sudah bisa mencapai puncak dan menikmati suguhan alam yang menakjubkan.
Setibanya di atas, lelah perjalanan seakan luruh seketika. Hamparan perbukitan, sawah, dan perkampungan di kejauhan terlihat mengecil, dibalut lapisan kabut tipis yang bergerak perlahan. Pada waktu-waktu tertentu, terutama pagi hari, kabut tersebut membentuk lautan awan yang luas, menciptakan panorama yang kerap disebut warga sebagai “negeri di atas awan”.
Suasana hening, udara sejuk, dan angin pegunungan menjadikan puncak ini tempat yang ideal untuk menenangkan pikiran.
Puncak Ahuawali juga dikenal sebagai salah satu spot camping terbaik di Sulawesi Tenggara.
Area puncaknya cukup lapang untuk mendirikan tenda, baik untuk pendaki pemula maupun keluarga yang ingin berkemah santai.
Malam hari di Ahuawali menghadirkan suasana yang berbeda—langit gelap bertabur bintang, suara alam yang bersahut-sahutan, serta udara dingin yang memaksa jaket tebal menjadi sahabat setia.
Ketika fajar datang, Puncak Ahuawali kembali menunjukkan pesonanya. Sinar matahari perlahan muncul dari balik perbukitan, menembus kabut dan menciptakan gradasi cahaya yang memesona.
Momen matahari terbit ini menjadi incaran para fotografer dan pemburu konten visual, karena setiap detiknya menghadirkan perubahan warna dan suasana yang sulit diulang.
Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, Puncak Ahuawali kini tak hanya menjadi kebanggaan warga setempat, tetapi juga destinasi turis yang kian populer.
Kehadirannya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam agar keindahan ini tetap bisa dinikmati generasi mendatang.
Lebih dari sekadar bukit, Puncak Ahuawali adalah ruang jeda—tempat manusia kembali menyadari betapa luas dan indahnya alam. Di ketinggian 750 MDPL, Konawe seolah berbincang langsung dengan langit, dan siapa pun yang berdiri di puncaknya akan pulang membawa cerita, kenangan, serta rasa ingin kembali.
Akses dan Perjalanan Menuju Puncak Ahuawali
Perjalanan menuju Puncak Ahuawali tergolong mudah dan bersahabat. Dari pusat Kota Unaaha—ibu kota Kabupaten Konawe—jaraknya sekitar 25–30 kilometer. Waktu tempuh rata-rata berkisar 45 menit hingga 1 jam, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca.
Rute perjalanan didominasi jalan aspal yang cukup baik, melewati kawasan perdesaan, persawahan, serta kebun-kebun warga yang memberi kesan perjalanan santai dan menenangkan.
Sementara itu, bagi wisatawan yang berangkat dari Kota Kendari, jarak tempuh menuju Puncak Ahuawali sekitar 95–110 kilometer.
Waktu perjalanan normal berada di kisaran 2,5 hingga 3 jam. Dari Kendari, perjalanan diarahkan menuju Unaaha terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke Kecamatan Puriala hingga tiba di Desa Ahuawali. (**)

Tim Redaksi