KENDARI, TEROBOS.ID – Saat ini pemerintah telah menetapkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dengan konsep yang dikenal dengan tol laut.
Hal itu dikatakan ketua Yayasan Sultra Raya Dua Ribu Dua Puluh, Alvin Akawijaya Putra (AAP).
Olehnya itu, AAP mengajak semua pihak terutama para generasi muda untuk melek terhadap kekayaan dengan berbagai potensi yang dimiliki oleh kelautan Provinsi Sultra.
“Konsep ini sangat beralasan mengingat posisi Indonesia berada di jantung lalu lintas dua samudra besar di dunia, yaitu antara dua benua, khususnya Benua Asia dan Benua Australia,” ucap Alvin.
Visi maritim, lanjutnya Alvin, muncul sebagai kekuatan baru untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Khususnya kesejahteraan nelayan, masyarakat pesisir, serta masyarakat yang berada di sekitar pulau-pulau kecil di wilayah terluar.
“Saya melihat dalam kerangka master plan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia hingga tahun 2025, Sultra berada pada koridor dua Sulawesi,” sebut Alvin.
“Di mana sektor perikanan menjadi salah satu sektor utama dalam pembangunan ekonomi di wilayah ini. Peluang pemanfaatan sumberdaya ikan di wilayah ini terbuka luas, namun disadari bahwa saat ini pemanfaatan dominan pada pemanfaatan sumber daya pesisir atau sumber daya ikan pada perairan relatif dangkal saja, seperti di sekitar pantai saja,” sambungnya.
Alvin menjelaskan, di masa depan tentu hal itu dapat berdampak pada kelestarian sumber daya hayati perairan pesisir dan laut dangkal di sekitarnya, dan juga pada sosial ekonomi masyarakat termasuk timbulnya konflik pemanfaatan.
“Di lain pihak, wilayah Sultra dikelilingi perairan dalam yakni laut Banda dan Laut Flores, dengan sumber daya alam yang belum banyak dimanfaatkan, bahkan belum dieksplorasi sepenuhnya,” tegasnya.
Berangkat dari kondisi itu, maka kebutuhan akan SDM yang menguasai ilmu dan teknologi di bidang eksplorasi dan pemanfaatan sumberdaya laut dalam dimasa datang, akan menjadi kebutuhan mutlak yang harus disediakan.
Putra Gubernur Sultra ini menyebutkan, bahwa butuh komitmen kuat dari semua pihak agar Indonesia termasuk daerah mampu mengelola sumber daya tersebut, diantaranya melalui penyediaan tenaga kerja lokal dengan kompetensi memadai melalui pendidikan tinggi di bidang ekplorasi dan pemanfaatan sumberdaya laut.
“Oleh karena itu, kehadiran ITK Buton membuka peluang melalui salah satu program studi teknonolgi penangkapan ikan, khususnya yang berorientasi pada eksplorasi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan laut dalam. Hal ini tentu membutuhkan teknologi dan sumberdaya yang mumpuni,” pungkas Alvin. (***)
Tim Redaksi